Senin, 14 September 2015

Dari Acara Bedah Buku Antologi Puisi Manuskrip Sepi:

Cirebon Merindukan Kegiatan yang Bernafaskan Budaya

Oleh : Aisyah Nur Aini*)

Masyarakat dipandang belum menempatkan sastrawan dan pegiat seni dan budaya umumnya di tempat yang terhormat. Bahkan khusus di wilayah Cirebon, Jawa Barat, masyarakat  dinilai belum memberikan ruang bagi para sastrawan sekaligus apresiasi terhadap karya-karya mereka. Padahal hari-hari ini bumi manusia dinilai sedang mengalami kekeringan atas nilai-nilai nilai-nilai kemanusiaan sehingga memerlukan inspirasi baru yang dapat diambil dari karya sastra dan seni pada umumnya untuk menyegarkannya.

Pandangan tersebut dikemukakan oleh K.H. Husein Muhammad,  pendiri Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon yang lebih dikenal sebagai tokoh agama, budayawan  dan penulis produktif saat memberikan sambutan pada acara Bedah Buku Antpologi Puisi "Manuskrip Sepi" karya Nissa Rengganis" di Kampus ISIF Cirebon, Jumat, 14 Agustus 2015. Acara bedah buku yang dihadiri para pegiat seni di Cirebon ini menghadirkan dua pembedah buku, yakni Willy Pramudya, pengajar pada Kelas Menulis Kreatif di ISIF, dan Bakhrul Amal MA, pengamat dan esais asal Cirebon.

“Sastra merupakan salah satu cara untuk mendamaikan bumi ini dan bentuk perlawanan yang indah terhadap situasi kekeringan dan kekerasan”, ujar Husein Muhammad, yang juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Cirebon.  “Telah lama kita merindukan pertemuan semacam ini,” tambah kyai yang kerap menyempatkan diri menyaksikan kegiatan seni budaya di berbagai kota baik pada saat belajar di Universitas AlAzar Kairo Mesir maupun tampil sebagai pembicara dalam berbagai forum internasional.

Kyai yang dinilai paling menguasai masalah feminisme dan pernah menjadi komisioner pada Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ini juga sempat berkisah tentang pertemuannya dengan banyak perempuan pernyair  dari berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah Nissa Rengganis, perempuan penyair asal Cirebon yang dinilainya sebagai sastrawati generasi muda yang  pintar, tegas dan punya prinsip.

Terkait dengan kerinduannya akan kegiatan seni budaya sebagaimana acara bedah buku yang digelar di Kampus ISIF itu,  Husein Muhammad, selaku
warga yang lahir dan tumbuh besar di kota yang memiliki kekayaan kutural dan sejarah panjang ini, mengatakan bahwa sebenarnya Cirebon memiliki sejumlah sastrawan hebat yang kini bertebaran di mana-mana.  Mereka, kata Husein, adalah generasi penerus bangsa yang sangat idealis dan memegang komitmen atas nilai-nilai luhur dalam kehidupan bersama.

"Kita sangat membutuhkan wadah untuk berbagi rasa dan kasih, serta berbagi pengalaman tentang sastra,” kata tokoh yang akrab dipanggil Buya ini. "Kajian sastra akan memberikan makna yang sangat luas dan menghubungkan interaksi dengan orang lain," tutur pendiri sejumah LSM perempuan yang telah menulis belasan buku ini.

Kerinduan akan hadirnya kegiatan seni budaya secara rutin di Cirtebon, juga dikemukakan sejumlah pegiat seni budaya baik sastra, musik dan teater yang hadir pada acara bedah buku tersebut.  Kerinduan itu mereka sampaikan saat memberikan tanggapan dalam diskusi.

Buya Husein juga sempat membacakan salah satu sajak karya Nissa Rengganis yang termuat dalam antologi Manuskrip Sepi, dengan iringan musik yang dimainkan oleh Lawan Teater pimpinan Edeng Syamsul Ma'arif.  Edeng bersama kelompoknya yang tengah membuat proyek musikalisasi puisi bersama Nissa Rengganis,  juga menampilkan sejumlah  gubahan mereka  yang mendapatkan sambutan meriah.

Tradisi Warung Kopi

Buya Husein Muhammad yang hari itu juga memberikan orasi budaya sempat berkisah tentang pertemuannya dengan Nissa Rengganis di salah satu kedai kopi di Cirebon. Kedai kopi yang dimaksud adalah tempat minum kopi yang di Indonesia kini lebih dikenal dengan nama cafe dan menjadi tempat kaum muda untuk nongkrong alias kumpul-kumpul.

Buya memandang bahwa kegiatan kumpul-kumpul di warung kopi sambil berdiskusi merupakan tradisi para penyair dan sastrawan di berbagai kota di Indonesia dan dunia.   “Saya kira itu merupakan tradisi sastrawan yang lebih asyik nongkrong di pinggir jalan sambil minum kopi dan berdiskusi,” ujarnya.

Dengan penuh semangat Buya juga sempat berbagi cerita tentang pengalamannya  ketika berada di Istambul, Turki. Beliau sempat berkunjung ke museum Orhan Pamuk, novelis Turki terkemuka peraih penghargaan Nobel di bidang sastra. Dari museum ini dia kemudian sempat menelusuri lorong-lorong di sekitarnya dan mendapati anak-anak muda Turki memiliki kebiasaaan nongkrong di pinggir jalan pada malam hari sambil minum kopi dan merokok.

"Nah yang menarik adalah ada tempat yang mengabadikan puntung rokok mereka  itu. Hal itu mungkin bisa dijadikan inspirasi yang luar biasa bagi kita semua. Pertemuan-pertemuan semacam itu merupakan pengalaman yang sangat mengasyikkan bagi dirinya," ucapnya.

Sementara ketika berada di Kairo untuk tugas belajar, Buya mengaku kerap menghadiri tempat tempat nongkrong di tepian Bengawan Nil dan berkumpul dengan para sastrawan. Perkumpulan semacam itu, kata Buya, tidak disia-siakan begitu saja oleh para sastrawan untuk mendapatkan inspirasi baru dalam berkarya.

“Bukan kata yang memberikan dan membuatmu bergairah, bukan kata yang membuatmu kecewa tetapi aliran dari hati itulah yang merubah dan memberikan efek-efek terhadap aktivitas dan kualitas diri,” kata Kyai Husein yang sempat membuat hadirin terpukau ketika membawakan lagu
Guru Bangsa (Hormat untuk Gus Dur) karya pemusik Sri Krishna. 

Buya juga sempat memberikan motivasi untuk kaum muda, khususnya mahasiswa agar banyak membaca, belajar menulis dan  menggali alam semesta lalu diungkapkan dan diekspresikan dalam bentuk karya seni, termasuk sastra.  "Saya juga berharap agar acara-acara semacam ini diadakan secara rutin agar orang dapat saling berbagi ide dan pengalaman," ujarnya


Manuskrip Sepi

Antologi Puisi "Manuskrip Sepi" sendiri  merupakan kumpulan puisi karya Nissa Rengganis yang mulai menulis puisi sejak tahun 2009. Banyak tema yang ditawarkan melalui puisi-puisinya seperti tema-tema yang bersifat kesunyian sekaligus sikap kritis terhadap hidupnya  sebagai perempuan. Puisi-puisinya juga penuh renungan tentang kesunyian, kesendirian, keterkekangan,  rintihan, duka sekaligus harapan manusia.

Nissa Rengganis lahir di Cirebon, pada 08 September 1988. Menyelesaikan sarjana S1 pada disiplin Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, semasa kuliah, Nissa aktif di dunia teater SiAnak dan mengolah komunitas Terang Sore yang fokus pada budaya literasi.  Lulusan Program Pascasarjana Hubungan Internasional  dengan konsentrasi Global Humanitarian Diplomacy Universitas Gajahmada itu kini menjadi dosen di ISIF Cirebon dan Universitas Muhammadiyah Cirebon.

Sebelum menerbitkan "Manuskrip Sepi" sebagai kumpuan puisi yang kemudian menyabet pengahragaan sebagai salh satu antologi terbaik pada Hari Puisi,  puisi-puisi Nissa termuat dalam antologi bersama “Ibu Kota Keberaksaraan” Jakarta International Literary Festival 2011, “Di Kamar Mandi” 62 penyair Jawa Barat- Komunitas Malaikat Bandung 2012, “Sauk Seloko” Penyair Nusantara-Jambi 2012, “Negeri Abal-Abal”,  Antologi Puisi Perempuan Indonesia, KPPI 2013, Jalan Bersama, Yayasan Panggung Melayu 2014, “Titik Temu”,  Komunitas Kampong Jerami 2014.  Bersama dengan kawan-kawannya, Nissa Rengganis mendirikan dan mengolah Rumah Kertas-rumah sastra yang dihuni oleh anak-anak muda di Cirebon. ***


*) Mahasiswa prodi Ekonomi Syariah ISIF semester 1

2 komentar:

  1. Wouw,aku senang membaca tulisan ini. Teruslah menuliskan fenomena dan merefleksikannya

    BalasHapus
  2. Mantap tulisannya, kalau bisa Desain Blog nya juga di percantik, :D :D

    BalasHapus