Kamis, 10 September 2015

SITI AISYAH, Pemberani dari Buntet

Kali ini ku ceritakan seorang perempuan beranak dua yang juga belajar di ISIF. Sekilas jika kamu bertemu dengannya, kamu akan menduga ia seorang yang pemalu. Tetapi sungguh kamu akan kecele.Karena ia adalah pemberani.

Di saat banyak orang di sekeliling tergiur membeli ijazah, ia bertahan tetap menyelesaikan skripsinya. Sungguh bukan hal mudah, karena menulis baginya bukanlah hal yang mudah, apalagi penelitian.
"Saya tidak akan menyerah. Saya sudah berjuang ke kampus dari rumah saya yang jauh di Buntet sana bertahun-tahun" Aisyah kadang ke kampus membawa anaknya yang kecil dari rumahnya yang berjarak 15 km dari kampus ISIF.

Tetapi yang membuat kita harus lebih bangga adalah kepeduliannya terhadap masyarakat di kampungnya. Siti Aisyah yang sekarang mengajar di madrasah ibtidaiyah di kampungnya ini, berupaya menangkap kegelisahan masyarakat, dan hal-hal yang terjadi masyarakat. Ia pernah mengundang Bayt Al-Hikmah untuk memberi pemahaman soal Kespro di kampungnya, dan hasilnya luar biasa masyarakat sangat antusias karena tidak pernah mendapatkannya bahkan dari badan desa sekalipun.
"Kuliah ini telah membantu saya menjadi orang yang berani berbicara dihadapan banyak orang. Tadinya mereka tidak memandang saya. Sekarang mereka mulai mengakui pendidikan itu sangat penting dengan melihat saya"

Aisyah saat ini sedang gelisah, dengan menumpuknya sampah di sungai. Ia pernah mengajukan masalah ini ke desa, namun tidak ditanggapi sungguh-sungguh. Hari ini ia berupaya mendapatkan pandangan-pandangan dari saya, mengenai bagaimana cara memulai membangun gotong royong pengelolaan sampah di kampungnya.

Aisyah sudah menjelma menjadi seorang pemimpin. Sungguh, saya patut berbangga hati, bayangkan jika semua mahasiswa punya kesadaran dan melakukan hal telah dilakukan Aisyah. Indonesia akan semakin maju. [Ida]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar