Rabu, 14 Oktober 2015

Nuraena, Perempuan Pengusaha dari Cirebon
Teman saya, perempuan berumur 33 tahun. Dia pengusaha yang gigih. Usahanya mulai dari jualan mobil, batu mulia, fashion, dan alat kecantikan. Dua tahun belakangan ini dia merambah ke usaha pertanian, menanam bawang dan menjualnya dalam bentuk bawang goreng kemasan. Usahanya lancar, tidak juga. Pernah jatuh bangun, mengalami kerugian tetapi dia tidak putus asa.
Dia tidak mudah putus asa termasuk dalam soal belajar. "Setelah sepuluh tahun menunda kuliah. Paska keluarnya saya dari salah satu perguruan tinggi swasta karena harus bekerja dan mengurus keluarga, saya kuliah lagi. Saya ingin belajar lagi. Atas dorongan guru saya di pesantren saya kuliah lagi di ISIF ini", katanya.
Awalnya dia cukup bingung dan merasa tidak percaya diri dengan identitasnya sebagai mahasiswa ISIF. Maklum saja, ISIF bukan kampus mentereng yang punya beragam fasilitas. ISIF hanya mampu memberikan kesederhanaan, suasana kekeluargaan sekaligus pendampingan mahasiswa dalam belajar. Namun demikian, menginjak semester tiga, dia sudah dengan lantang memperkenalkan dirinya sebagai mahasiswa ISIF.
"Di ISIF, saya belajar banyak hal, soal kesehatan reproduksi, keberagaman, pendampingan masyarakat serta strategi pembelajaran yang saya perlukan untuk studi saya di jurusan Pendidikan Agama Islam, Saat ini saya sedang PLP (Praktek Lapangan Profesi) di salah satu MAN di Cirebon, saya ajak siswa melakukan sosio drama untuk menggambarkan Perang Uhud. Siswa sangat antusias, padahal menurut seorang guru biasanya siswa mengantuk saat pelajaran sejarah", tuturnya.
Di tengah tuntutan lulusan perguruan tinggi harus bekerja di suatu kantor atau lembaga,mungkin kita perlu belajar dari kemauan keras perempuan beranak dua ini. Kemauannya untuk berwirausaha sekaligus belajar keilmuan lain yang dibutuhkannya untuk masyarakat. [Ida]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar